Mengedukasi Kebencanaan Melalui Learning By Gaming Ular Tangga

INDONESIASATU.CO.ID:

NGANJUK - Pemerintah Indonesia telah menetapkan Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang menekankan bahwa Penanggulangan Bencana tidak hanya terpaku pada tahap tanggap darurat/respons saja, tetapi juga mencakup tahap pra bencana (kesiapsiagaan) dan pasca bencana (pemulihan).

Undang-undang tersebut secara jelas menyatakan bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan, pelatihan, penyuluhan, dan keterampilan dalam penyelenggaraan penanggulangan bencana, baik dalam situasi tidak terjadi bencana maupun situasi terdapat potensi bencana.

Dengan melalui pendidikan diharapkan agar upaya Pengurangan Risiko Bencana (PRB) dapat mencapai sasaran yang lebih luas dan dapat dikenalkan secara lebih dini kepada seluruh peserta didik, misalnya dengan mengintegrasikan pendidikan pengurangan risiko bencana ke dalam kurikulum sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler.

Dengan upaya bisa memastikan bahwa lingkungan pendidikan (sekolah) dan fasilitas pendidikan aman dari bencana dan bukan merupakan tempat yang dapat membahayakan kehidupan peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya.

Setiap anak memiliki hak atas keselamatan dan kelangsungan hidup, selain juga hak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas dan berkesinambungan. Hak-hak ini sering kali terancam tidak terpenuhi akibat bahaya alam dan bahaya terkait teknologi yang menyebabkan terjadinya bencana besar dan kecil. Bencana ini, baik sekala besar, sedang maupun kecil, memberikan dampak terhadap keselamatan dan pendidikan anak-anak. Saat pendidikan menjadi terganggu, pendidikan seorang anak bisa menjadi terputus, kadang terputus selamanya, yang berarti memberikan dampak negatif yang permanen, baik secara ekonomi maupun sosial, terhadap anak tersebut, keluarganya dan komunitasnya. 

Untuk sektor pendidikan, dampak terburuk dari sebuah bencana adalah hilangnya nyawa maupun terjadinya cedera parah di sekolah. Selain itu, terdapat banyak konsekuensi lain yang dapat secara permanen mempengaruhi masa depan anak-anak.

Indonesia secara posisi geografis dan lokasinya yang berada di salah satu daerah bencana paling aktif di dunia, maka wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia merupakan daerah rawan Bencana. Setidaknya ada 12 ancaman bencana yang dikelompokkan dalam bencana geologi (gempabumi, tsunami, gunungapi, gerakan tanah/tanah longsor), bencana hidrometeorologi (banjir, banjir bandang, kekeringan, cuaca ekstrim, gelombang ekstrim, kebakaran hutan dan lahan), dan bencana antropogenik (epidemi, wabah penyakit dan gagal teknologi-kecelakaan industri).

Begitu juga dengan di Kabupaten Nganjuk  yang merupakan salah satu daerah  di Provinsi Jawa Timur dengan multi ancaman bencana antara lain banjir, tanah longsor, angin puting beliung, kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan. 

Pada tahun 2017, terjadi bencana tanah longsor di Desa Kepel Kecamatan Ngetos yang menelan korban meninggal dunia sebanyak 3 (tiga) orang pelajar. Berangkat dari hal tersebut di atas, bahwa sasaran yang diinginkan dalam proyek perubahan ini adalah terwujudnya sekolah yang aman dari bencana yang terutama untuk peserta didik, guru dan tenaga kependidikan lainnya dari risiko kematian dan cedera akibat dampak bencana. 

Dalam proses pembelajaran adalah proses perubahan untuk mengukur knowledge, skill dan attitude. Kondisi sekarang yang terjadi adalah kurang menariknya  penyampaian materi kesiapsiagaan menghadapi bencana kepada peserta didik. Kondisi tersebut di atas disebabkan karena metode pembelajaran masih didominasi dengan metode ceramah dengan materi tambahan kesiapsiagaan masih kurang, kurangnya alat peraga pembelajaran, kurangnya pembinaan dan bimbingan teknis  bagi instruktur kebencanaan
Kurangnya sarana pembelajaran/game yang menyenangkan.

Penyebab utama atau yang menjadi akar masalah adalah metode pembelajaran yang didominasi metode ceramah. Atas dasar latar belakang permasalahan tersebut diperlukan proyek perubahan yaitu metode pembelajaran kesiapsiagaan menghadapi bencana bagi peserta didik di lingkungan sekolah. Pada gilirannya perlu dilakukan inovasi pembelajaran kebencanaan dalam bentuk learning by gaming. Metode pembelajaran dirancang sangat edukatif dan menarik peserta didik di sekolah. 

Akhirnya sebagi bentuk inovasi di bidang kebencanaan, kami merintis sebuah  edukasi metode pembelajaran Pengurangan Risiko Bencana di sekolah dengan nuansa yang lebih interaktif dan komunikatif dengan harapan peserta didik dengan senang dapat langsung mengenal ancaman bencana di Indonesia pada umumnya yang dikemas dalam permaian (game) Ular Tangga. 

Dalam permaian  tersebut  menggambarkan situasi sebab dan akibat dari perilaku manusia yang lebih dikenal dengan man made disaster. Di sana juga diajarkan 
Permaian ini didisain sebagai wahana/media untuk memberikan pembelajaran materi pengurangan risiko bencana dan kesiapsiagaan menghadapi bencana. 

Manfaat pembelajaran media ini adalah peserta didik dan guru akan lebih meningkatkan wawasan dan pengetahuan upaya – upaya pengurangan risiko bencana/penanggulangan bencana di sekolah.

Di sisi lain, bahwa Pengurangan Risiko Bencana (PRB) merupakan suatu kegiatan jangka panjang, sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan, dengan cara menggunakan pengetahuan, inovasi, dan pengetahuan untuk membangun budaya selamat dan tangguh pada semua satuan pendidikan, seperti yang dinyatakan dalam Hyogo Framework for Action (HFA) dan telah pula menjadi komitmen bangsa Indonesia. PRB yang berkaitan dengan bidang pendidikan sesuai yang tercantum dalam HFA dan telah diusulkan dalam Sendai Framework for Disaster Risk Reduction 2015-2030, perlu menjadi program prioritas dalam sektor pendidikan yang diwujudkan melalui pendidikan PRB di sekolah.

Pendidikan PRB sebuah proses pembelajaran bersama yang bersifat Interaktif di tengah masyarakat dan lembaga-lembaga yang ada. Cakupan pendidikan pengurangan risiko bencana lebih luas  daripada pendidikan formal di sekolah dan universitas. Termasuk di dalamnya adalah pengakuan dan penggunaan kearifan tradisional dan pengetahuan lokal bagi perlindungan terhadap bencana alam.

Selain itu, pendidikan PRB di sekolah menjadi wahana yang sangat penting untuk mewujudkan budaya siap dan siaga dalam menghadapi ancaman bencana, sekaligus sebagai perwujudan dari Education for Sustainable Development (ESD).

Berdasarkan pengertian tersebut, maka tujuan dari pendidikan PRB yang tertuang dalam permaian (game) tersebut adalah menumbuhkan perkembangan nilai dan sikap kemanusian, menumbuhkan perkembangan sikap dan kepedulian terhadap risiko bencana, Mengembangkan pemahaman tentang risiko bencana, pemahaman tentang kerentanan sosial, pemahaman tentang kerentanan fisik, serta kerentanan perilaku dan motivasi.

Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan untuk pencegahan dan pengurangan risiko bencana, pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan yang bertanggungjawab, dan adaptasi terhadap risiko bencana. 

Mengembangkan upaya untuk pengurangan risiko bencana di atas, baik secara individu maupun kolektif, meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan siaga bencana, meningkatkan kemampuan tanggap darurat bencana, mengembangkan kesiapan untuk mendukung pembangunan kembali komunitas saat bencana terjadi dan mengurangi dampak yang disebabkan karena terjadinya bencana, meningkatkan kemampuan untuk beradaptasi dengan perubahan besar dan mendadak.

Besar harapan kiranya metode pembelajaran ini dapat meningkatkan wawasan, ketrampilan semua komponen/pelaku di  sekolah terutama dalam hal pengurangan risiko bencana secara lebih efektif dan berkelanjutan. 

Kami merekomendasikan media ini dapat sebagai bahan ajar untuk materi muatan lokal dalam kurikulum sekolah yang  aplikatif terutama pada kegiatan peserta didik di sekolah misal kepramukaan dan PMR (Palang Merah Remaja).  

Penulis : Kasi Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Nganjuk Atim Swasono, SP. M. Sos 

  • Whatsapp

Berita Terkait

* Belum ada berita terpopuler.

Index Berita